Minggu, 30 September 2012
The Journey was begin
Hari Minggu dini hari di saat semua orang masih terlelap berangkatlah saya ke bandara Soekarno Hatta untuk mengawali perjalanan ke Jepang Negeri Sakura.
Perjalanan diawali dengan penerbangan selama 1.5 jam ke Singapura transit selama 1 jam kemudian dilanjutkan 7jam mengudara menuju ke Jepang.
Hantaran minum bertubi-tubi datang menghampiri kemudian tiba saatnya makan siang seluruh bagian meja di depan kursi penuh terisi makanan. Dari salad buah dan ayam dengan dressing khas Jepang ada rasa kacang, nasi, ikan salmon, soba dengan soba sauce tak ketinggalan wasabi dan nori flake, roti plus butter, crackers. Saat ditanya minum saya nekat mau mencoba white wine oalah Ponk wong ndeso ojo neko-neko..
Tegukan pertama langsung menimbulkan sensasi semlenget di hidubg, kepala pening, kening cenut-cenut busyet cepet banget efeknya menjalar..makan terus dilanjutkan ketika menegak white wine yang kedua efek masih sama lalu saya encerkan ditambah air putih diseruput keadaan tak berubah malah tambah parah dalam hati 'Ponk perjalanan baru mau mulai gimana kalau belum-belum sudah mabok! Ya sudah saya putuskan segelas white wine yang masih penuh (karena ditambah air putih) dikembalikan ke pramugara agak heran raut wajahnya pasti dia pikir ini orang mabok apa ya? Hidangan ditutup dengan es krim vanila berbalut coklat.
Perjalanan diisi dengan menikmati sajian entertainment film/lagu dari layar di depan kursi beserta headphonenya.
Tepat pukul 17.30 waktu Jepang (GMT + 9) saya mendarat di bandara Narita Tokyo. Di saat mengantri di imigrasi kami disambut oleh gempa bumi yang sepetinya sudah tak asing untuk warga Jepang, sementara kami kaget dengan adanya gempa bumi, warga Jepang tak ada yang bergeming.
Belum hilang kekagetan kami, munculah kabar bahwa di luar sedang ada taifun yang ternyata sehari sebelumnya menhantam wilayah Nagoya saat itu Tokyo sedang mendapat 'belaian' sang taifun. Semua penerbangan dari dan ke Tokyo sesaat dibatalkan/ditunda. Bersyukurlah kami namun tetap berharap semoga semua segera berangsur membaik.
Kabar menyebutkan moda transportasi yang bisa beroperasi adalah bus, jadilah kita menunggu bus Airport Limousine di halte nomer 13 dengan tujuan Shinagawa sesuai dengan lokasi hotel Takanawa. Beruntung ada Rick dari Takasago Singapore yang sudah menunggu kami. Tiket bus dengan perjalanan selama 75 menit tersebut dibandrol dengan harga ¥ 3000.
Sesampainya di hotel kami disambut oleh paket hujan plus angin kencang.
Dengan kondisi perut kosong setelah check in dan memasukkan segala tas ke kamar kami turun lagi bersiap untuk makan malam. Dikenalkanlah kami dengan Kazuya Nakajima orang Jepang namun di Takasago Singapore. He is so cute!!!
Diajaklah kami makan di restoran Jepang di area hotel. Menu yang dipilih Tempura ada sup Miso dan Sashimi, dan yang tak pernah terlewat untuk menemani makan selama di Jepang adalah green tea. Porsi makan di Jepang jumbo dan banyak rupa.
Menikmati makan malam sembari cerita-cerita sementara hujan dan angin di luar tiada henti terlihat dari balik kaca. Tepat pukul 10 kami hendak kembali ke kamar hujan agak mereda buru-buru kami melintasi taman menggunakan payung namun sungguh mencengangkan saat tepat di tengah taman angin kencang 'memelintir' di atas kita. Langkah kaki menuju pintu hotel sungguh terasa berat dan payung transparan hotel yang lucu seketika rusak remuk redam. Sungguh lega akhirnya kami bisa masuk ke dalam hotel.
Tak lama kemudian ada staf hotel yang pasang wifi di kamar entah grogi atau mikirin badai di luar cowok Jepang itu masang wifi sambil berkeringat sampai tetes-tetes di meja oh no...!
Makasih ya mas jadi bisa whatsapp.an ke semua.
Dari lantai 6 saya melihat suasana di taman sungguh ngeri angin sangat kencang menerpa pepohonan dengan suara menderu sampai kaca hotel tersentak. Kabar yang diterima angin topan tersebut mampir di Tokyo mencapai puncaknya pada tengah malam. Maksud hati ingin melihat topan menerjang namun apa daya mata pengen segera memejam.
Senin, 1 Okt 2012
Saatnya menghirup udara pagi di Tokyo.
Sarapan sambil menikmati suasana pagi yang seakan tidak ada tragedi angin topan malam harinya. Tidak ada bekas sama sekali huru-hara semalam bahkan dedaunan nampak tenang dengan sedikit tersibak angin. Kemana gerangan perginya angin...
Seusai sarapan rekan-rekan dari Takasago berkumpul ada Rick dan Nakajima dari Singapore, Oiko dan si lembut Bird dari Jepang. Juga ada costumer dari Philipine dan Thailand.
Kami saling berkenalan dan tukar kartu nama. Sejurus kemudian kami sudah bergerak menuju stasiun Shinagawa. Sesuai rencana kami akan naik kereta super cepat Shinkansen menuju Yokohama. Jadwal kereta pukul 9.40 pas. Sembari menunggu datangnya kereta seperti biasa saya mulai foto2 dengan latar belakang 'moncong' Shinkansen. Saatnya masuk ke dalam kereta berkecepatan 300km/jam tersebut. Interior laksana kabin pesawat. Perjalanan ke Yokohama yang seumpama ditempuh mebggunakan kereta biasa 2jam dengan Shinkansen hanya perlu waktu 11 menit. Memandang keluar seperti slide foto yang sedang tampil dipercepat.
Baru sekejap menikmati slide foto alami kami pun tiba di stasiun Shin Yokohama tepat di depan pintu kereta kami ada bangunan yang membuat semua tertawa karena bangunan tersebut bertuliskan Givaudan yang merupakan salah satu kompetitor terbesar Takasago.
Kami berjalan menyusuri stasiun menuju museum ramen yang bernama Shinyokohama Raumen Museum. Antrian dipenuhi oleh rombongan anak sekolah.
Tiket masuk seharga ¥ 250. Begitu masuk langsung terlihat shop yang menjual mi dan souvenir.
Turun tangga menuju lorong- lorong berlatar Tokyo tahun 1958, tahun tersebut merupakan tonggak awal hadirnya ramen di Jepang.
Ada telepon umum, model rumah lengkap dengan jemuran di balkon lt 2 rumah tersebut, sekolah, beauty salon dan masih banyak lagi.
Saatnya mencoba salah satu restoran Sumire berbasis dari Tokyo, ramen yang disediakan kuah dengan rasa shoyu, miso, dan shio (salt). Harga 1 mangkok ¥ 550. Ugh..porsi segede gaban tak kuasa tuk menghabiskan. Mau diseruput dihabiskan kuahnya saja namun terlalu asin.
Turun lagi di lantai bawah serupa dengan alun-alun karena di sekelilingnya dipenuhi orang jualan ada es krim, kue, minuman dan tentu saja warung ramen yang jumlah total di dalam museum tersebut ada 9 buah.
Kami mencoba salah satu warung ramen yang ketika dirasa dominan fried garlic dan fried onion. Kuah salah satunya berwarna hitam. Warung yang satu ini kuahnya tidak seasin ramen dari warung sebelumnya. Cenderung manis semanis mas yang jual dan saya sampai diam-diam memotret wajah manisnya hehe..
Selepas itu kami melanjutkan perjalanan survei produk makanan di supermarket. Tujuan pertama ke 7eleven holdings. Begitu banyak produk makanan yang sumpah semua seperti melambai minta dibeli!
Jepang jagonya bikin makanan lucu dan menarik.
Dari mi, biskuit, minuman, snack, instant food, dan convenience product yang variatif tinggal panasin di microwave siap santap.
Saking luasnya kami sampai tidak mengintari semua lorong.
Masih kuat jalan kami naik kereta melewati 2 stasiun dan sampailah ke Diver City Mall. Tujuan utama market survey snack dan candy super lucu.
Namun ketika dikasih info kalau di dalam juga ada Uniqlo dan Daiso wah tambah semangat karena keduanya termasuk dalam daftar toko yang mau dikunjungi selama di Tokyo.
Melihat candy bersama antek-anteknya gak ada yang dibeli karena muahal rek!!
Kita menuju food court di lantai 2 mencoba makanan Jepang ramen, udon, okonomiyaki.
Sambil minum glico coffee banana dengan jeli.nya syeger..asli enak banget!
Setelah kenyang kami langsung cabut ke Daiso di lt 6, semua serba ¥105.
Sesuai jadwal kami harus ke hotel dulu dengan kereta sebelum dinner namun karena masih pengen ke Uniqlo akhirnya diputuskan kembali ke Shinagawa naik taxi. Di Uniqlo saya dapat jaket buat Sita tapi sayang banget ternyata kegedean, maaf ya Sita..
Setelah selesai langsung cabut ke Shinagawa dengan 2 taxi saya, Grace, dan Rick senentara taxi lainnya Bu Nira, Pak Preddy, dan Oiko. Sekali masuk argo langsung menunjukkan anfka ¥710, astaga...!!
Kami turun di belakang stasiun Shinagawa Rick sibuk menelepon Oiko kami malah tega di belakangnya saling foto2 karena sekelilingnya bangunan dengan lampu gemerlap. Ada cewek cantik menghampiri menawarkan untuk memotret waow baik hati sekali. Lalu kami langsung pasang gaya tangan ke atas membuat 'love' Korean Style, sementara Rick masih sibuk menelepon mencari rombongan lainnya. Alamak teganya kita! Lalu maksud hati mau bilang ke cewek yang motret kita arigato gozaimasu yang meluncur dari mulut ohayo gozaimasu langsung aja cewek tersebut senyum maklum lha wong malam hari kok mengucapkan selamat pagi hehe...
Akhirnya Oiko datang menjemput kita dan langsung menuju ke Sushi Restoran.
Barang seabrek hasil belanja di supermarket langsung dimasukkan ke peti dibawah tempat duduk. Pesan dikabulkan yaitu sweet sake, bir, dan cocktail. Nekat karena masih terbayang-bayang mabok white wine di pesawat. Ibu maapin anak ibu malah mabok-mabokan di Jepang padahal seumur-umur belum pernah minum minuman beralkohol.
Makanan Jepang datang silih berganti Sashimi yang meleleh di mulut, Tempura crunchy, Cawan Mushi, Tofu, dan kami melihat pembuatan chef restoran saat membuat Sushi. Sushi yang dibuat langsung kandas kita santap. Usai dinner kami kembali ke hotel jalan kaki menyusuri stasiun Shinagawa.
Sampai di hotel saya dan Grace masih lanjut keluar lagi. Maksud hati mau mencari minuman kopi Glico yang super enak sudah menyusuri seputaran stasiun dan di sekitar hotel tapi nihil ya sudah lanjut foto-foto di dekat tulisan hotel Takanawa Tokyo.
Malam ditutup manis tanpa kehadiran angin sama sekali seperti malam sebelumnya.
Senin, 10 Maret 2014
Ketauan Orang Indonesia
Di suatu sore ketika sedang iseng membaca koran, tak sengaja saya melihat sekotak kecil informasi yang berisi Kontes Menulis tentang Indonesia yang diadakan oleh salah satu maskapai penerbangan. Kita diminta menceritakan salah satu kota di Indonesia dengan pilihan Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Bali, Makassar, dan Banjarmasin. Apa yang wajib dikunjungi di kota tersebut, makanan yang harus dicoba, cinderamata khas, dan harus disertai dengan foto asli jepretan kita. Sontak otak saya langsung merespon tantangan tersebut. Seluruh memori saya tentang kota-kota yang pernah saya kunjungi mulai bersliweran. Kontes ditutup hanya seminggu setelah tantangan tersebut dilayangkan. Kota pertama yang saya tulis adalah Jogja. Seperti tidak rela hanya menuliskan 1 kota, mumpung ide sedang mengalir, saya mencoba juga menulis 3 kota lainnya yaitu Surabaya, Pekanbaru, dan Bali sekaligus.
Sehari sebelum deadline, saya mengirim hasil karya beserta foto-fotonya. Dari lubuk hati terdengar bisik lirih yang rasanya hadir di setiap insan yang mengikuti kontes apapun. Harapan tuk menang…..
Sepanjang hari di tanggal yang telah dijanjikan untuk pengumuman pemenang, saya cek surel tiap jam. Hingga siang kabar tersebut belum ada, sore hari di saat kerjaan menumpuk saya sampai melewatkan cek surel. Sampai ada teman saya mengirimkan sms ucapan selamat kalau saya merupakan salah satu pemenang kontes tersebut. Woaa…hadiah tiket pp gratis ke Malaysia ada di depan mata. Namun seperti yang dijanjikan oleh penyelenggara kontes, dari ke-13 pemenang tersebut akan dipilih lagi 3 pemenang yang akan mendapatkan grandprize tiket pesawat pp ke wilayah Asia. Boleh dong bermimpi, siapa yang nggak pengen dapat grandprize. Saat yang dinanti tiba, sewaktu saya cek surel, syukur padaNya terucap, nama saya ada di urutan pertama yang menerima rejeki tersebut. Negara tujuan yang saya pilih adalah Hong Kong, saya rencanakan juga untuk menyeberang ke Macau.
Pertengahan Desember tahun 2010, saya berangkat sendiri dari Jakarta menuju Hong Kong. Karena sendirian, maka saya buat secara rinci itinerary selama di sana. Sekitar jam 17:30 saya sampai di HKIA (Hong Kong International Airport). Saya bermaksud menunda dulu menyapa Hong Kong karena malam itu saya akan langsung bertolak ke Macau menggunakan bis. Tak sampai 25 menit, bis yang akan membawa ke Connaught Road, halte terdekat dengan China Ferry Terminal, datang. Saya memilih duduk di bagian atas supaya dapat leluasa memandang Hong Kong di waktu malam. Tak lama kemudian bis sampai ke tempat tujuan. Tidak susah menemukan loket yang menjual tiket Turbojet ke Macau. Menikmati perjalanan selama 1 jam akhirnya saya tiba di Macau. Di depan terminal terdapat banyak sekali bis gratis bermacam warna yang akan membawa kita ke hotel-hotel mewah di Macau. Saya pun segera naik bis hijau yang akan membawa ke Hotel Lisboa. Tentu saja saya tidak menginap di hotel tersebut hehe..Lokasi hostel saya ada di belakang hotel tersebut. Sungguh gemerlap Macau di waktu malam, Ketika turun dari bis, mati mampus di mana letak hostel saya di tengah gemerlap lampu warna-warni hotel plus kasino Macau. Iseng bertanya pada bapak-bapak yang sedang menyapu jalanan beliau tidak mengerti bahasa inggris. Ya sudah cari sendiri saja, tepat di belakang hotel Lisboa, ada bangunan kuno dengan lorong super gelap. Dan benar saja, ternyata lokasi hostel saya ada di lantai 3 bangunan tersebut. Alamak, ini gudang atau tempat penyekapan sih, gelap penuh debu dan usang. Saya ketuk pintu ruangan dan saya dipersilakan masuk oleh pemilik hostel. Hostel tersebut ada 3 kamar yang masing-masing terdiri dari 3 tempat tidur tingkat. Saya dapat tempat di bagian atas. Setelah proses check-in selesai, saya segera keluar untuk sejenak menikmati ‘sapaan’ Macau yg sungguh memukau. Saya menyeberang lewat underpass ke hotel Wynn. Sebelum berangkat, googling dulu atraksi-atraksi malam di Macau yang banyak adalah di hotel tersebut. Saya pertama kali sok pede masuk ke kasino, segala macam permainan ada di sana, di saat yang lain pada main, saya malah minum bergelas-gelas Rosemary Tea yang ditawarkan sama mbak-mbak yang jaga. Sambil sesekali celingukan melihat permainan yang sedang berlangsung. Setelah puas menonton, saya menuju lobi, di sana ada pertunjukan menarik yaitu Dragon of Fortune, dan Prosperity Tree Show. Dari basement muncul naga emas saat Dragon of Fortune dan pohon emas saat Prosperity Tree Show. Menarik sekali pertujukan gratis tersebut.
Saatnya kembali ke hostel, setiba di sana saya langsung disapa oleh teman sekamar, kami ngobrol sebentar, ternyata dia berdua dengan temannya adalah orang Portugal. Tempat tidur yang satunya diisi oleh cewek Australia, kami sempat mengobrol sebentar. Saya yang baru pertama kali menginap di hostel, sendirian pula, merasa terkesan karena bertemu dengan teman sekamar yang ramah, sehingga meski sendiri jauh dari keluarga tidak merasa kesepian.
Bangun pagi-pagi masih sepi, saya sampai jalan dengan berjingkat takut penghuni lainnya pada bangun. Ada dapur kecil di hostel tersebut untuk sekedar membuat sarapan atau minuman. Sewaktu di dapur akan membuat minuman, kaget bukan main karena tiba-tiba ada yang ajak saya omong bahasa Tagalok ternyata ada yang mengira saya orang Filipina. Bukan sekali itu saja namun oleh 3 tamu hostel yg berbeda menanyakan apakah saya dari Filipina. Hehe lucunya di Jakarta saya selalu ditebak orang Jawa padahal baru ngomong 1 kata, lha ini di negara lain malah saya naik kelas dikira orang Filipina. Karena kamar mandinya sharing dan hanya ada 2 untuk total 3 kamar, maka saya mandi pagi sekali di saat yang lain masih terlelap.
Hari tersebut rencana saya isi dengan berkeliling Macau. Salah satu yang masuk dalam itinerary saya selama di Macau adalah mengunjungi galeri Michael Jackson (MJ) yang ada di Hotel Sofitel. Saya berdecak kagum saat memasuki hotel tersebut, segala hiasan natal (saat itu memang 2 minggu menjelang hari natal) nan gemerlap ada di seputaran lobi. Dikarenakan jam buka galeri tersebut masih 2 jam lagi, maka daripada mati gaya mendingan saya keliling hotel karena memang hobi saya saat berada di sebuah hotel adalah mengitarinya demi menemukan kolam renang. Memang terkesan aneh kebiasaan saya tersebut, cuma sekedar melongok ke kolam renang dan foto-foto sudah senang saya dibuatnya. Kala itu saya sudah menemukannya namun ketika minta ijin mau masuk oleh penjaganya langsung dilarang, sedihnya saya, padahal sudah mengutarakan alasan hanya mau foto kolam renangnya, tetep nggak boleh. Saya masih belum menyerah saya melihat akses masuk ke kolam renang harus melewati restoran hotel tersebut. Saat celingukan, ada yang menyapa saya dalam bahasa Indonesia, “Mau kemana mbak?” Ups..pikir saya, ada saudara yang mengenali saya orang Indonesia nih, seneng rasanya bisa bertemu saudara di negeri orang. Orang tersebut ternyata dari Jakarta dan sudah bekerja 5 tahun di hotel tersebut. Dia bertanya apakah saya menginap di hotel tersebut, oho..tentu saja tidak, saya bilang hanya pengen foto kolam renang sembari menunggu galeri MJ buka. Lewat pertolongannya saya berhasil masuk ke kolam renang dengan diiringi tatapan sinis penjaga sport club tersebut. Maaf ya..beruntungnya saya.
Setelah melihat galeri MJ, saya lanjutkan berkeliling kota Macau sampai menjelang senja.
Malam itu saya seperti enggan sampai larut, jadi jam 8 malam saya sudah sampai di hostel lagi. Suasana sepi sekali, daripada di kamar sendirian saya malah mengobrol dengan si empunya hostel yang ternyata asalnya dari Bangladesh. Senang rasanya bisa bertukar cerita di negeri orang apalagi di saat kita sendirian. Sengaja tidak mau sampai larut malam, karena keesokan paginya saya akan berangat ke Hong Kong dengan naik First Ferry pukul 6 pagi.
Tepat pukul 7 pagi saya menginjakkan kaki kembali di Hong Kong. Untuk menuju ke penginapan saya di dekat MTR Jordan, maka saya naik MTR dari stasiun yang terdekat dari dermaga yaitu Tsim Sha Tsui. Setibanya di stasiun Jordan saya segera menuju ke Nathan Road tempat penginapan saya tersebut. Kebingungan terjadi karena saya tidak berhasil menemukannya. Bertanyalah saya pada pelajar yang ada di pinggir jalan, mereka malah melengos duh sedihnya. Tak lama kemudian dari belakang muncul perempuan keren dan langsung sok akrab dengan saya, kenapa sok akrab, karena mbak itu langsung ajak saya omong bahasa Jawa, bersorak…saya menemukan saudara di belahan bumi HongKong.
M : “Arep ningdi?” (Mau kemana)
S : “Golek hotel.e iki lho mbak” (Cari hotelnya ini lho mbak)
M : “Karo majikan.e ora diandani po? (Sama majikannya gak dikasih tau apa?)
S : Keringat nongol di kening sambil menelan ludah. “Nggak mbak”
M : “Telepon wae” (Telepon aja)
S : “Ya mbak”
M : “Ati-ati yo!” (Hati-hati ya!)
S : “Maturnuwun ya mbak” (Terimakasih ya mbak)
Hihihihi…geli sendiri saya dikira TKW, biarkanlah wajah saya memang ndeso ditambah dengan tentengan saya tas bermotif batik, kalau ngomong medok pas banget dah.
Jalan berputar-putar akhirnya saya menyerah dan mengikuti saran mbak tadi untuk menelepon Hakkas Guesthouse tempat saya menginap. Olala dari stasiun Jordan tadi seharusnya saya belok kiri sedikit langsung sampai, saya malah ke kanan dan ternyata malah makin menjauh. Syukurlah sudah sampai ke tempat yang dituju. Kali ini saya di kamar sendirian bukan model dorm seperti sewaktu saya menginap di Macau. Hari pertama di Hong Kong saya habiskan sampai larut malam. Sampai di hotel terasa sunyi. Di sini saya bisa merasakan perbedaannya, sewaktu kemarin di Macau privacy terbatas karena harus berbagi kamar dengan orang lain meskipun tidak kenal tapi serasa ada teman, tidak sendirian. Sekarang rasanya sunyi sendiri tanpa teman meskipun saya bebas membuka semua isi tas saya dan membuat kamar berantakan.
Dua malam menginap di hotel tersebut rasanya susah sekali mejamkan mata, padahal sewaktu di Macau rasanya baru rebahan langsung bablas. Entah karena memang balutan hawa dingin bulan Desember, atau karena sunyi sendiri, atau karena di bawah sana di jalanan masih ramai lalu lalang kendaraan. Duuhh..ingin sekali rasanya pagi cepat menyapa.
Minggu pagi saya berniat ke daerah Victoria Park untuk bisa bertemu dengan saudara-saudara dari Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Banyak sekali komunitas perkumpulan di sana, ada yang hanya sekedar cerita, makan-makan, dan bahkan banyak juga yang jualan berbagai makanan khas Indonesia, ada bumbu pecel, peyek, sambel terasi, kering tempe, kering kentang, dan masih banyak lagi. Saya sempat mengobrol dengan salah satu dari mereka, pakai bahasa Jawa lagi hehe..serasa di rumah sendiri.
Saya nikmati malam terakhir di Hong Kong. Show segera berakhir, saatnya berkemas dan bersiap utuk kembali ke tanah air keesokan harinya. Pengalaman yang sunguh indah.
Sehari sebelum deadline, saya mengirim hasil karya beserta foto-fotonya. Dari lubuk hati terdengar bisik lirih yang rasanya hadir di setiap insan yang mengikuti kontes apapun. Harapan tuk menang…..
Sepanjang hari di tanggal yang telah dijanjikan untuk pengumuman pemenang, saya cek surel tiap jam. Hingga siang kabar tersebut belum ada, sore hari di saat kerjaan menumpuk saya sampai melewatkan cek surel. Sampai ada teman saya mengirimkan sms ucapan selamat kalau saya merupakan salah satu pemenang kontes tersebut. Woaa…hadiah tiket pp gratis ke Malaysia ada di depan mata. Namun seperti yang dijanjikan oleh penyelenggara kontes, dari ke-13 pemenang tersebut akan dipilih lagi 3 pemenang yang akan mendapatkan grandprize tiket pesawat pp ke wilayah Asia. Boleh dong bermimpi, siapa yang nggak pengen dapat grandprize. Saat yang dinanti tiba, sewaktu saya cek surel, syukur padaNya terucap, nama saya ada di urutan pertama yang menerima rejeki tersebut. Negara tujuan yang saya pilih adalah Hong Kong, saya rencanakan juga untuk menyeberang ke Macau.
Pertengahan Desember tahun 2010, saya berangkat sendiri dari Jakarta menuju Hong Kong. Karena sendirian, maka saya buat secara rinci itinerary selama di sana. Sekitar jam 17:30 saya sampai di HKIA (Hong Kong International Airport). Saya bermaksud menunda dulu menyapa Hong Kong karena malam itu saya akan langsung bertolak ke Macau menggunakan bis. Tak sampai 25 menit, bis yang akan membawa ke Connaught Road, halte terdekat dengan China Ferry Terminal, datang. Saya memilih duduk di bagian atas supaya dapat leluasa memandang Hong Kong di waktu malam. Tak lama kemudian bis sampai ke tempat tujuan. Tidak susah menemukan loket yang menjual tiket Turbojet ke Macau. Menikmati perjalanan selama 1 jam akhirnya saya tiba di Macau. Di depan terminal terdapat banyak sekali bis gratis bermacam warna yang akan membawa kita ke hotel-hotel mewah di Macau. Saya pun segera naik bis hijau yang akan membawa ke Hotel Lisboa. Tentu saja saya tidak menginap di hotel tersebut hehe..Lokasi hostel saya ada di belakang hotel tersebut. Sungguh gemerlap Macau di waktu malam, Ketika turun dari bis, mati mampus di mana letak hostel saya di tengah gemerlap lampu warna-warni hotel plus kasino Macau. Iseng bertanya pada bapak-bapak yang sedang menyapu jalanan beliau tidak mengerti bahasa inggris. Ya sudah cari sendiri saja, tepat di belakang hotel Lisboa, ada bangunan kuno dengan lorong super gelap. Dan benar saja, ternyata lokasi hostel saya ada di lantai 3 bangunan tersebut. Alamak, ini gudang atau tempat penyekapan sih, gelap penuh debu dan usang. Saya ketuk pintu ruangan dan saya dipersilakan masuk oleh pemilik hostel. Hostel tersebut ada 3 kamar yang masing-masing terdiri dari 3 tempat tidur tingkat. Saya dapat tempat di bagian atas. Setelah proses check-in selesai, saya segera keluar untuk sejenak menikmati ‘sapaan’ Macau yg sungguh memukau. Saya menyeberang lewat underpass ke hotel Wynn. Sebelum berangkat, googling dulu atraksi-atraksi malam di Macau yang banyak adalah di hotel tersebut. Saya pertama kali sok pede masuk ke kasino, segala macam permainan ada di sana, di saat yang lain pada main, saya malah minum bergelas-gelas Rosemary Tea yang ditawarkan sama mbak-mbak yang jaga. Sambil sesekali celingukan melihat permainan yang sedang berlangsung. Setelah puas menonton, saya menuju lobi, di sana ada pertunjukan menarik yaitu Dragon of Fortune, dan Prosperity Tree Show. Dari basement muncul naga emas saat Dragon of Fortune dan pohon emas saat Prosperity Tree Show. Menarik sekali pertujukan gratis tersebut.
Saatnya kembali ke hostel, setiba di sana saya langsung disapa oleh teman sekamar, kami ngobrol sebentar, ternyata dia berdua dengan temannya adalah orang Portugal. Tempat tidur yang satunya diisi oleh cewek Australia, kami sempat mengobrol sebentar. Saya yang baru pertama kali menginap di hostel, sendirian pula, merasa terkesan karena bertemu dengan teman sekamar yang ramah, sehingga meski sendiri jauh dari keluarga tidak merasa kesepian.
Bangun pagi-pagi masih sepi, saya sampai jalan dengan berjingkat takut penghuni lainnya pada bangun. Ada dapur kecil di hostel tersebut untuk sekedar membuat sarapan atau minuman. Sewaktu di dapur akan membuat minuman, kaget bukan main karena tiba-tiba ada yang ajak saya omong bahasa Tagalok ternyata ada yang mengira saya orang Filipina. Bukan sekali itu saja namun oleh 3 tamu hostel yg berbeda menanyakan apakah saya dari Filipina. Hehe lucunya di Jakarta saya selalu ditebak orang Jawa padahal baru ngomong 1 kata, lha ini di negara lain malah saya naik kelas dikira orang Filipina. Karena kamar mandinya sharing dan hanya ada 2 untuk total 3 kamar, maka saya mandi pagi sekali di saat yang lain masih terlelap.
Hari tersebut rencana saya isi dengan berkeliling Macau. Salah satu yang masuk dalam itinerary saya selama di Macau adalah mengunjungi galeri Michael Jackson (MJ) yang ada di Hotel Sofitel. Saya berdecak kagum saat memasuki hotel tersebut, segala hiasan natal (saat itu memang 2 minggu menjelang hari natal) nan gemerlap ada di seputaran lobi. Dikarenakan jam buka galeri tersebut masih 2 jam lagi, maka daripada mati gaya mendingan saya keliling hotel karena memang hobi saya saat berada di sebuah hotel adalah mengitarinya demi menemukan kolam renang. Memang terkesan aneh kebiasaan saya tersebut, cuma sekedar melongok ke kolam renang dan foto-foto sudah senang saya dibuatnya. Kala itu saya sudah menemukannya namun ketika minta ijin mau masuk oleh penjaganya langsung dilarang, sedihnya saya, padahal sudah mengutarakan alasan hanya mau foto kolam renangnya, tetep nggak boleh. Saya masih belum menyerah saya melihat akses masuk ke kolam renang harus melewati restoran hotel tersebut. Saat celingukan, ada yang menyapa saya dalam bahasa Indonesia, “Mau kemana mbak?” Ups..pikir saya, ada saudara yang mengenali saya orang Indonesia nih, seneng rasanya bisa bertemu saudara di negeri orang. Orang tersebut ternyata dari Jakarta dan sudah bekerja 5 tahun di hotel tersebut. Dia bertanya apakah saya menginap di hotel tersebut, oho..tentu saja tidak, saya bilang hanya pengen foto kolam renang sembari menunggu galeri MJ buka. Lewat pertolongannya saya berhasil masuk ke kolam renang dengan diiringi tatapan sinis penjaga sport club tersebut. Maaf ya..beruntungnya saya.
Setelah melihat galeri MJ, saya lanjutkan berkeliling kota Macau sampai menjelang senja.
Malam itu saya seperti enggan sampai larut, jadi jam 8 malam saya sudah sampai di hostel lagi. Suasana sepi sekali, daripada di kamar sendirian saya malah mengobrol dengan si empunya hostel yang ternyata asalnya dari Bangladesh. Senang rasanya bisa bertukar cerita di negeri orang apalagi di saat kita sendirian. Sengaja tidak mau sampai larut malam, karena keesokan paginya saya akan berangat ke Hong Kong dengan naik First Ferry pukul 6 pagi.
Tepat pukul 7 pagi saya menginjakkan kaki kembali di Hong Kong. Untuk menuju ke penginapan saya di dekat MTR Jordan, maka saya naik MTR dari stasiun yang terdekat dari dermaga yaitu Tsim Sha Tsui. Setibanya di stasiun Jordan saya segera menuju ke Nathan Road tempat penginapan saya tersebut. Kebingungan terjadi karena saya tidak berhasil menemukannya. Bertanyalah saya pada pelajar yang ada di pinggir jalan, mereka malah melengos duh sedihnya. Tak lama kemudian dari belakang muncul perempuan keren dan langsung sok akrab dengan saya, kenapa sok akrab, karena mbak itu langsung ajak saya omong bahasa Jawa, bersorak…saya menemukan saudara di belahan bumi HongKong.
M : “Arep ningdi?” (Mau kemana)
S : “Golek hotel.e iki lho mbak” (Cari hotelnya ini lho mbak)
M : “Karo majikan.e ora diandani po? (Sama majikannya gak dikasih tau apa?)
S : Keringat nongol di kening sambil menelan ludah. “Nggak mbak”
M : “Telepon wae” (Telepon aja)
S : “Ya mbak”
M : “Ati-ati yo!” (Hati-hati ya!)
S : “Maturnuwun ya mbak” (Terimakasih ya mbak)
Hihihihi…geli sendiri saya dikira TKW, biarkanlah wajah saya memang ndeso ditambah dengan tentengan saya tas bermotif batik, kalau ngomong medok pas banget dah.
Jalan berputar-putar akhirnya saya menyerah dan mengikuti saran mbak tadi untuk menelepon Hakkas Guesthouse tempat saya menginap. Olala dari stasiun Jordan tadi seharusnya saya belok kiri sedikit langsung sampai, saya malah ke kanan dan ternyata malah makin menjauh. Syukurlah sudah sampai ke tempat yang dituju. Kali ini saya di kamar sendirian bukan model dorm seperti sewaktu saya menginap di Macau. Hari pertama di Hong Kong saya habiskan sampai larut malam. Sampai di hotel terasa sunyi. Di sini saya bisa merasakan perbedaannya, sewaktu kemarin di Macau privacy terbatas karena harus berbagi kamar dengan orang lain meskipun tidak kenal tapi serasa ada teman, tidak sendirian. Sekarang rasanya sunyi sendiri tanpa teman meskipun saya bebas membuka semua isi tas saya dan membuat kamar berantakan.
Dua malam menginap di hotel tersebut rasanya susah sekali mejamkan mata, padahal sewaktu di Macau rasanya baru rebahan langsung bablas. Entah karena memang balutan hawa dingin bulan Desember, atau karena sunyi sendiri, atau karena di bawah sana di jalanan masih ramai lalu lalang kendaraan. Duuhh..ingin sekali rasanya pagi cepat menyapa.
Minggu pagi saya berniat ke daerah Victoria Park untuk bisa bertemu dengan saudara-saudara dari Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Banyak sekali komunitas perkumpulan di sana, ada yang hanya sekedar cerita, makan-makan, dan bahkan banyak juga yang jualan berbagai makanan khas Indonesia, ada bumbu pecel, peyek, sambel terasi, kering tempe, kering kentang, dan masih banyak lagi. Saya sempat mengobrol dengan salah satu dari mereka, pakai bahasa Jawa lagi hehe..serasa di rumah sendiri.
Saya nikmati malam terakhir di Hong Kong. Show segera berakhir, saatnya berkemas dan bersiap utuk kembali ke tanah air keesokan harinya. Pengalaman yang sunguh indah.
Hampir Gila di Hotel
Meski dengan predikat dinas luar siapa sih yang nggak senang bisa bepergian dengan tiket pergi pulang dan menginap di hotel gratis. Begitu juga dengan saya yang bekerja di bidang makanan, setiap kali akan keluar produk baru, selalu ada riset ke konsumen yang diadakan di dalam kota, luar kota, bahkan terkadang sampai ke luar negeri. Bagi yang ditunjuk bos untuk mengemban tugas tersebut pastilah memikul beban berat agar riset berjalan lancar dari awal hingga akhir, dan yang lebih penting yaitu bisa jalan-jalan sekalian refreshing sejenak dari rutinitas kantor.
Begitu kota tujuan riset diinformasikan, data-data pendukung untuk riset konsumen dipersiapkan, baru kemudian itinerary dan wisata kuliner di kota yang dituju langsung dibuat. Untuk hotel biasanya dibantu oleh rekan dari cabang setempat yang akan didatangi jadi saya tidak ribet masalah booking hotel. Namanya juga cariin dan dibayarin, saya nggak bisa memilih hotel sesuka hati namun selalu saya terima dengan senang hati. Syukur banget kalau ternyata letaknya strategis dekat dengan pusat keramaian. Segala sesuatu jika disyukuri pasti terasa nyaman.
Tahun 2002 kala itu saya mendapat tugas ‘road show’ selama 12 hari ke Kalimantan. Kota yang dituju adalah Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, dan terakhir Balikpapan. Karena saya penyuka pengalaman baru maka ada kesempatan pergi ke Pulau Kalimantan kali pertama pasti sungguh menyenangkan. Berangkat dari Jakarta berdua dengan teman dari bagian Marketing. Teman saya itu usianya 20 tahun di atas saya namun tetap asyik untuk diajak jalan bareng. Karena sering pergi berdua dengannnya, maka tidak ada bayangan mati gaya selama 12 hari menikmati rimba Kalimantan.
Kota pertama yang dituju adalah Banjarmasin. Mendarat di bandara Syamsudin Noor kami dijemput oleh tim dari kantor cabang Banjarmasin dan langsung menuju ke hotel. Karena baru pertama kali menginjak bumi Kalimantan, mata saya tidak lepas memandang jalanan sepanjang dari bandara sampai ke hotel. Setelah beberapa lama menyusuri jalanan, ada yang menarik perhatian saya, di sudut-sudut kota terpampang baliho atau spanduk tentang grup band PADI yang akan manggung di kota itu 2 hari lagi. Mereka sepertinya sedang promo album baru mereka waktu itu yaitu Sesuatu yang Tertunda. Lagu di album tersebut memang semua menarik. Meski saya ngefans mereka tapi belum pernah sekalipun saya bertemu bahkan menonton aksi panggungnya. Pikiran saya langsung melayang seandainya bisa menonton show mereka, ehm..pasti seru, kalau dibuat cerita judulnya “Senang Bukan Main bertemu PADI di Banjarmasin”. Lamunan langsung buyar karena mobil tiba-tiba sudah masuk ke halaman hotel tempat menginap. Suasana di parkiran sungguh ramai dengan mobil dan orang lalu lalang. Spanduk PADI pun tumpah ruah di hotel tersebut. Hati kecil langsung berbisik jangan-jangan mereka tinggal di hotel yang sama dengan saya, ngarep! Sewaktu check-in saya menyempatkan bertanya pada petugas hotel dan jawabanya, tara…..PADI benar menginap di hotel tersebut dan kabarnya mereka akan datang besok! Seumur-umur baru kali ini bisa sehotel dengan artis. Pantesan panitia dengan kaos bertulisankan PADI di punggung sliwar-sliwer keluar masuk hotel. Tidak banyak yang bisa dilakukan malam itu, saya memilih tidur di kasur empuk untuk menjaga stamina selama tugas di Kalimantan. Padahal ritual saya kalau menginap di hotel adalah saat malam pasti berkeliling seputaran hotel untuk mencari kolam renang. Pantulan lampu di air yang tenang sungguh mendamaikan hati.
Keesokan harinya setelah menikmati sarapan di hotel, kami dijemput untuk berangkat ke tempat riset. Riset dimulai dari jam 8 pagi dan selesai jam 5 sore. Tidak ada rencana yang akan kami lakukan setelah itu, maka kami segera diantar kembali ke hotel. Wajah Fadly, Piyu dan Yoyo kembali terbayang, akankah saya bisa bertemu salah satu dari mereka. Sesampainya di hotel, busyet banyak banget fans yang sudah menunggu di luar hotel namun mereka tidak diperbolehkan masuk ke lobi. Bukannya sombong tapi saya lebih unggul dari para fans PADI tersebut karena saya bisa lenggak-lenggok masuk hotel tanpa disemprit pak satpam (yaeyalah…orang nginep di situ). Hari masih sore saya ajak teman saya menikmati fasilitas kolam renang. Hanya kami berdua yang mengisi kolam renang tersebut, bener-bener seperti kolam renang pribadi. Teman saya pamit mau ke kamar duluan, nggak lama kemudian saya menyusulnya. Setelah berganti baju, lagi-lagi saya masih penasaran banget bisa bertemu dengan mereka. Saya ijin ke teman saya mau keluar sebentar, padahal sebenarnya mau melakukan misi ngider di seputaran hotel untuk sekedar melihat hidung Piyu, hehe. Mengorek informasi dari salah satu petugas hotel para personil PADI menginap di lantai 6, sedangkan kamar saya ada di lantai 4. Entah informasi tersebut benar atau salah, saya segera mengendap-endap ke lantai 6, sepi…semut.pun males keluar sepertinya. Saya naik turun lift dari lantai 4 ke lantai 6 bolak-balik sampai bego. Kayaknya kalau ketahuan pak satpam langsung ditangkap dikira orang gila (padahal emang gila beneran, mikirin nggak bisa bertemu PADI). Putus sudah harapan, balik ke kamar 1 jam kemudian dengan langkah gontai. Untung teman saya nggak curiga, seandainya dia tahu apa yang saya lakukan 1 jam terakhir pasti langsung pingsan!
Pagi harinya saya bersiap untuk beranjak dari Banjarmasin untuk bertolak ke Palangkaraya. Setelah sarapan, kami berdua diajak untuk menikmati masakan khas Banjarmasin yaitu Ayam Masak Habang dan membeli beberapa makanan untuk bekal perjalanan ke Palangkaraya. Setelah selesai, kami kembali ke hotel lagi untuk check out. Saya nggak berharap lagi untuk bisa bertemu PADI karena ‘hidup’ saya di hotel itu tinggal hitungan menit, cuma tinggal ambil koper, check out dan bye. Tapi tetep, hati kecil saya nggak bisa berbohong pengen banget foto bareng Piyu. Kami langsung menuju lift untuk naik ambil koper. Lamunan saya terhenyak saat pintu lift lobi terbuka tepat di hadapan saya.....’Piyuuuuuu…!!! Oh My God..tangan saya sontak gemetar, plastik berisi apel langsung saya letakkan di lantai tangan saya sibuk mencari kamera di tas. Yuupp kamera ketemu, langsung minta bantuan teman saya untuk motret saya bareng sang idola. Nggak sampai sepuluh detik Piyu langsung dikerubuti fans yang entah tadi pada ngerong sembunyi di mana. Teman saya tangannya memegang kamera sambil gemetar karena kaget melihat saya hilang di antara kerumunan. Sampai bertanya “Mau foto sama yang mana, Piyu yang mana?” Saking bingungnya, olala teman saya ternyata nggak tahu yang mana Piyu hahaha. Duh, nyengir kuda langsung difoto tak masalah bahkan sempat minta tanda tangan segala. Puas, ternyata usaha keras saya berbuah manis kemudian syukur PadaNya terucap telah mengabulkan doa saya yang dengan sabar menunggu datangnya kesempatan tuk bertemu Piyu. Tugas 10 hari tersisa langsung terasa ringan hehe..hajar bleh!!
Masih dalam rangka menjalankan tugas, kisah saya selanjutnya adalah ketika ditugaskan ke ibukota Jawa Tengah yaitu Semarang. Pada kesempatan tersebut saya bertugas bertiga dengan rekan satu bagian yaitu Rina dan Olive, asyik karena kami seumuran terbayang kegilaan yang akan kami lakukan di sana. Acara inti dijadwalkan hari Senin pagi jam 8, jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket untuk pergi hari Minggu siang dari Jakarta. Sore hari kami tiba di bandara Achmad Yani dari situ kami naik taksi langsung menuju hotel. Seperti biasanya kami sudah dibantu booking hotel oleh rekan dari kantor cabang Semarang jadi kita tinggal check-in di resepsionis hotel yang ada di wilayah Simpang Lima, Semarang. Barang-barang segera kami masukkan ke kamar, dikarenakan kami bertiga, maka saya memesan extra bed. Hari masih sore, kami bertiga sepakat menghabiskan malam di Semarang. Kegiatan diisi dengan keliling kota Semarang. Tujuan pertama kami adalah Vihara Buddhagaya Watugong, lalu dilanjutkan ke Klenteng Sam Po Kong dan Gereja Blenduk. Setelah makan malam, kami masih ingin menikmati temaram kota Semarang meski gerimis pada saat itu. Tercetus ide untuk menguji nyali ke Lawang Sewu. Beruntunglah kami, karena ternyata hari Jumat-Minggu Lawang Sewu buka hingga jam 12 malam. Kami sampai di sana sekitar jam 9 malam. Menyusuri lorong Lawang Sewu, malam, gelap, gerimis...sungguh sempurna! Dengan ditemani seorang pemandu, kami diajak berkeliling lorong-lorong Lawang Sewu sambil ‘didongengi’ kisah sejarah Lawang Sewu pada jaman dulu. Meski gelap mendera, seperti biasa kami tetap cekikak-cekikik sambil foto sana-sini. Namun kekonyolan kami tidak berlangsung lama, saat itu Olive sedang ngobrol dengan pemandu, saya minta bantuan Rina untuk potret saya dengan background bangunan gelap menyeramkan. Pose dibuat semanis mungkin, Rina hitung “satu..dua..tiga..klik..!! Lalu katanya “Mbak, kok nggak ada gambarnya!” Glek..sempat menelan ludah sebelum melihat hasil fotonya. Seketika saya langsung masukkan kamera ke saku karena selintas terlihat yang ‘terfoto’ bukan wajah manis saya melainkan justru bangunan hitam gelap di belakang saya. Merinding…!!
Kami tetap melanjutkan berkeliling sampai mampus. Setelah puas 1 jam mengitari Lawang Sewu akhirnya kami pulang ke hotel karena malam sudah larut dan kami ingat besok tugas hari perdana menanti.
Tiba di hotel kami langsung menuju lift untuk naik ke kamar. Di dalam lift kami kembali bercerita tentang kejadian menyeramkan tadi, saya langsung merasa ada yang mencekik saya, segera saya tepis perasaan tersebut. Kamar yang kami tinggali tidak terlalu besar, apalagi ditambah extra bed di tengah, kamar jadi makin terasa sempit. Tak apalah karena malah terasa guyub rukun. Saat itu Rina yang sepakat pertama mandi, saya menulis kejadian hari itu di notes kecil sampai Olive mandi……dan…kehebohan pertama terjadi…!
Olive teriak “Apa ini.. ?” Saat melihat kaca kamar mandi …sekujur badan saya merinding…kaca segede bagong di kamar mandi penuh dengan tulisan dan gambar menyeramkan!!! Gambar perempuan seram berambut keriting dengan kata-kata makian tertulis di sana. Saya mencoba hapus namun tidak bisa, kami segera menepis rasa takut dengan beranggapan gambar tersebut muncul akibat uap air panas karena ternyata Rina sebelumnya mandi menggunakan air dingin sehingga gambar menyeramkan tersebut tidak muncul. Saya langsung ke sofa lagi namun hati masih merasa tidak enak, Olive lanjutkan mandinya namun kembali menjerit kenapa ada notes di lantai kamar mandi. Kehebohan kedua terjadi ..saya pun seketika kaget siapa yang memindahkan notes saya ke kamar mandi. Saya langsung tersadar mungkin tadi sewaktu menganga kaget melihat tulisan aneh, tidak terasa notes yang saya pegang jatuh. Ketegangan belum berakhir, kehebohan ketiga terjadi saat saya berdiri di dekat meja televisi, tiba-tiba lampu kamar mati. Alamak kegilaan apalagi nih pikir saya. Saya kira Rina yang matiin lampu demikian juga yang ada di pikiraannya saya yang matiin lampu. Duh…bulu kuduk kembali meremang, setelah menenangkan hati dan diusut, lampu mati sendiri karena sakelar di meja kecil yang ada di antara dua tempat tidur utama tergencet extra bed yang ada di tengah. Woahahahaha….konyol sungguh konyol malam itu. Tiba giliran saya mandi, jika melihat hasil karya entah siapa di kaca tersebut memang terlihat ngeri bikin jantung mau copot. Kami menutup malam di hotel tersebut dengan berlomba siapa yang tidur paling cepat karena males kalau harus merinding lagi hehe.
Begitu kota tujuan riset diinformasikan, data-data pendukung untuk riset konsumen dipersiapkan, baru kemudian itinerary dan wisata kuliner di kota yang dituju langsung dibuat. Untuk hotel biasanya dibantu oleh rekan dari cabang setempat yang akan didatangi jadi saya tidak ribet masalah booking hotel. Namanya juga cariin dan dibayarin, saya nggak bisa memilih hotel sesuka hati namun selalu saya terima dengan senang hati. Syukur banget kalau ternyata letaknya strategis dekat dengan pusat keramaian. Segala sesuatu jika disyukuri pasti terasa nyaman.
Tahun 2002 kala itu saya mendapat tugas ‘road show’ selama 12 hari ke Kalimantan. Kota yang dituju adalah Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, dan terakhir Balikpapan. Karena saya penyuka pengalaman baru maka ada kesempatan pergi ke Pulau Kalimantan kali pertama pasti sungguh menyenangkan. Berangkat dari Jakarta berdua dengan teman dari bagian Marketing. Teman saya itu usianya 20 tahun di atas saya namun tetap asyik untuk diajak jalan bareng. Karena sering pergi berdua dengannnya, maka tidak ada bayangan mati gaya selama 12 hari menikmati rimba Kalimantan.
Kota pertama yang dituju adalah Banjarmasin. Mendarat di bandara Syamsudin Noor kami dijemput oleh tim dari kantor cabang Banjarmasin dan langsung menuju ke hotel. Karena baru pertama kali menginjak bumi Kalimantan, mata saya tidak lepas memandang jalanan sepanjang dari bandara sampai ke hotel. Setelah beberapa lama menyusuri jalanan, ada yang menarik perhatian saya, di sudut-sudut kota terpampang baliho atau spanduk tentang grup band PADI yang akan manggung di kota itu 2 hari lagi. Mereka sepertinya sedang promo album baru mereka waktu itu yaitu Sesuatu yang Tertunda. Lagu di album tersebut memang semua menarik. Meski saya ngefans mereka tapi belum pernah sekalipun saya bertemu bahkan menonton aksi panggungnya. Pikiran saya langsung melayang seandainya bisa menonton show mereka, ehm..pasti seru, kalau dibuat cerita judulnya “Senang Bukan Main bertemu PADI di Banjarmasin”. Lamunan langsung buyar karena mobil tiba-tiba sudah masuk ke halaman hotel tempat menginap. Suasana di parkiran sungguh ramai dengan mobil dan orang lalu lalang. Spanduk PADI pun tumpah ruah di hotel tersebut. Hati kecil langsung berbisik jangan-jangan mereka tinggal di hotel yang sama dengan saya, ngarep! Sewaktu check-in saya menyempatkan bertanya pada petugas hotel dan jawabanya, tara…..PADI benar menginap di hotel tersebut dan kabarnya mereka akan datang besok! Seumur-umur baru kali ini bisa sehotel dengan artis. Pantesan panitia dengan kaos bertulisankan PADI di punggung sliwar-sliwer keluar masuk hotel. Tidak banyak yang bisa dilakukan malam itu, saya memilih tidur di kasur empuk untuk menjaga stamina selama tugas di Kalimantan. Padahal ritual saya kalau menginap di hotel adalah saat malam pasti berkeliling seputaran hotel untuk mencari kolam renang. Pantulan lampu di air yang tenang sungguh mendamaikan hati.
Keesokan harinya setelah menikmati sarapan di hotel, kami dijemput untuk berangkat ke tempat riset. Riset dimulai dari jam 8 pagi dan selesai jam 5 sore. Tidak ada rencana yang akan kami lakukan setelah itu, maka kami segera diantar kembali ke hotel. Wajah Fadly, Piyu dan Yoyo kembali terbayang, akankah saya bisa bertemu salah satu dari mereka. Sesampainya di hotel, busyet banyak banget fans yang sudah menunggu di luar hotel namun mereka tidak diperbolehkan masuk ke lobi. Bukannya sombong tapi saya lebih unggul dari para fans PADI tersebut karena saya bisa lenggak-lenggok masuk hotel tanpa disemprit pak satpam (yaeyalah…orang nginep di situ). Hari masih sore saya ajak teman saya menikmati fasilitas kolam renang. Hanya kami berdua yang mengisi kolam renang tersebut, bener-bener seperti kolam renang pribadi. Teman saya pamit mau ke kamar duluan, nggak lama kemudian saya menyusulnya. Setelah berganti baju, lagi-lagi saya masih penasaran banget bisa bertemu dengan mereka. Saya ijin ke teman saya mau keluar sebentar, padahal sebenarnya mau melakukan misi ngider di seputaran hotel untuk sekedar melihat hidung Piyu, hehe. Mengorek informasi dari salah satu petugas hotel para personil PADI menginap di lantai 6, sedangkan kamar saya ada di lantai 4. Entah informasi tersebut benar atau salah, saya segera mengendap-endap ke lantai 6, sepi…semut.pun males keluar sepertinya. Saya naik turun lift dari lantai 4 ke lantai 6 bolak-balik sampai bego. Kayaknya kalau ketahuan pak satpam langsung ditangkap dikira orang gila (padahal emang gila beneran, mikirin nggak bisa bertemu PADI). Putus sudah harapan, balik ke kamar 1 jam kemudian dengan langkah gontai. Untung teman saya nggak curiga, seandainya dia tahu apa yang saya lakukan 1 jam terakhir pasti langsung pingsan!
Pagi harinya saya bersiap untuk beranjak dari Banjarmasin untuk bertolak ke Palangkaraya. Setelah sarapan, kami berdua diajak untuk menikmati masakan khas Banjarmasin yaitu Ayam Masak Habang dan membeli beberapa makanan untuk bekal perjalanan ke Palangkaraya. Setelah selesai, kami kembali ke hotel lagi untuk check out. Saya nggak berharap lagi untuk bisa bertemu PADI karena ‘hidup’ saya di hotel itu tinggal hitungan menit, cuma tinggal ambil koper, check out dan bye. Tapi tetep, hati kecil saya nggak bisa berbohong pengen banget foto bareng Piyu. Kami langsung menuju lift untuk naik ambil koper. Lamunan saya terhenyak saat pintu lift lobi terbuka tepat di hadapan saya.....’Piyuuuuuu…!!! Oh My God..tangan saya sontak gemetar, plastik berisi apel langsung saya letakkan di lantai tangan saya sibuk mencari kamera di tas. Yuupp kamera ketemu, langsung minta bantuan teman saya untuk motret saya bareng sang idola. Nggak sampai sepuluh detik Piyu langsung dikerubuti fans yang entah tadi pada ngerong sembunyi di mana. Teman saya tangannya memegang kamera sambil gemetar karena kaget melihat saya hilang di antara kerumunan. Sampai bertanya “Mau foto sama yang mana, Piyu yang mana?” Saking bingungnya, olala teman saya ternyata nggak tahu yang mana Piyu hahaha. Duh, nyengir kuda langsung difoto tak masalah bahkan sempat minta tanda tangan segala. Puas, ternyata usaha keras saya berbuah manis kemudian syukur PadaNya terucap telah mengabulkan doa saya yang dengan sabar menunggu datangnya kesempatan tuk bertemu Piyu. Tugas 10 hari tersisa langsung terasa ringan hehe..hajar bleh!!
Masih dalam rangka menjalankan tugas, kisah saya selanjutnya adalah ketika ditugaskan ke ibukota Jawa Tengah yaitu Semarang. Pada kesempatan tersebut saya bertugas bertiga dengan rekan satu bagian yaitu Rina dan Olive, asyik karena kami seumuran terbayang kegilaan yang akan kami lakukan di sana. Acara inti dijadwalkan hari Senin pagi jam 8, jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket untuk pergi hari Minggu siang dari Jakarta. Sore hari kami tiba di bandara Achmad Yani dari situ kami naik taksi langsung menuju hotel. Seperti biasanya kami sudah dibantu booking hotel oleh rekan dari kantor cabang Semarang jadi kita tinggal check-in di resepsionis hotel yang ada di wilayah Simpang Lima, Semarang. Barang-barang segera kami masukkan ke kamar, dikarenakan kami bertiga, maka saya memesan extra bed. Hari masih sore, kami bertiga sepakat menghabiskan malam di Semarang. Kegiatan diisi dengan keliling kota Semarang. Tujuan pertama kami adalah Vihara Buddhagaya Watugong, lalu dilanjutkan ke Klenteng Sam Po Kong dan Gereja Blenduk. Setelah makan malam, kami masih ingin menikmati temaram kota Semarang meski gerimis pada saat itu. Tercetus ide untuk menguji nyali ke Lawang Sewu. Beruntunglah kami, karena ternyata hari Jumat-Minggu Lawang Sewu buka hingga jam 12 malam. Kami sampai di sana sekitar jam 9 malam. Menyusuri lorong Lawang Sewu, malam, gelap, gerimis...sungguh sempurna! Dengan ditemani seorang pemandu, kami diajak berkeliling lorong-lorong Lawang Sewu sambil ‘didongengi’ kisah sejarah Lawang Sewu pada jaman dulu. Meski gelap mendera, seperti biasa kami tetap cekikak-cekikik sambil foto sana-sini. Namun kekonyolan kami tidak berlangsung lama, saat itu Olive sedang ngobrol dengan pemandu, saya minta bantuan Rina untuk potret saya dengan background bangunan gelap menyeramkan. Pose dibuat semanis mungkin, Rina hitung “satu..dua..tiga..klik..!! Lalu katanya “Mbak, kok nggak ada gambarnya!” Glek..sempat menelan ludah sebelum melihat hasil fotonya. Seketika saya langsung masukkan kamera ke saku karena selintas terlihat yang ‘terfoto’ bukan wajah manis saya melainkan justru bangunan hitam gelap di belakang saya. Merinding…!!
Kami tetap melanjutkan berkeliling sampai mampus. Setelah puas 1 jam mengitari Lawang Sewu akhirnya kami pulang ke hotel karena malam sudah larut dan kami ingat besok tugas hari perdana menanti.
Tiba di hotel kami langsung menuju lift untuk naik ke kamar. Di dalam lift kami kembali bercerita tentang kejadian menyeramkan tadi, saya langsung merasa ada yang mencekik saya, segera saya tepis perasaan tersebut. Kamar yang kami tinggali tidak terlalu besar, apalagi ditambah extra bed di tengah, kamar jadi makin terasa sempit. Tak apalah karena malah terasa guyub rukun. Saat itu Rina yang sepakat pertama mandi, saya menulis kejadian hari itu di notes kecil sampai Olive mandi……dan…kehebohan pertama terjadi…!
Olive teriak “Apa ini.. ?” Saat melihat kaca kamar mandi …sekujur badan saya merinding…kaca segede bagong di kamar mandi penuh dengan tulisan dan gambar menyeramkan!!! Gambar perempuan seram berambut keriting dengan kata-kata makian tertulis di sana. Saya mencoba hapus namun tidak bisa, kami segera menepis rasa takut dengan beranggapan gambar tersebut muncul akibat uap air panas karena ternyata Rina sebelumnya mandi menggunakan air dingin sehingga gambar menyeramkan tersebut tidak muncul. Saya langsung ke sofa lagi namun hati masih merasa tidak enak, Olive lanjutkan mandinya namun kembali menjerit kenapa ada notes di lantai kamar mandi. Kehebohan kedua terjadi ..saya pun seketika kaget siapa yang memindahkan notes saya ke kamar mandi. Saya langsung tersadar mungkin tadi sewaktu menganga kaget melihat tulisan aneh, tidak terasa notes yang saya pegang jatuh. Ketegangan belum berakhir, kehebohan ketiga terjadi saat saya berdiri di dekat meja televisi, tiba-tiba lampu kamar mati. Alamak kegilaan apalagi nih pikir saya. Saya kira Rina yang matiin lampu demikian juga yang ada di pikiraannya saya yang matiin lampu. Duh…bulu kuduk kembali meremang, setelah menenangkan hati dan diusut, lampu mati sendiri karena sakelar di meja kecil yang ada di antara dua tempat tidur utama tergencet extra bed yang ada di tengah. Woahahahaha….konyol sungguh konyol malam itu. Tiba giliran saya mandi, jika melihat hasil karya entah siapa di kaca tersebut memang terlihat ngeri bikin jantung mau copot. Kami menutup malam di hotel tersebut dengan berlomba siapa yang tidur paling cepat karena males kalau harus merinding lagi hehe.
Langganan:
Komentar (Atom)