Senin, 10 Maret 2014

Hampir Gila di Hotel

Meski dengan predikat dinas luar siapa sih yang nggak senang bisa bepergian dengan tiket pergi pulang dan menginap di hotel gratis.  Begitu juga dengan saya yang bekerja di bidang makanan, setiap kali akan keluar produk baru, selalu ada riset ke konsumen yang diadakan di dalam kota, luar kota, bahkan terkadang sampai ke luar negeri.  Bagi yang ditunjuk bos untuk mengemban tugas tersebut pastilah memikul beban berat agar riset berjalan lancar dari awal hingga akhir, dan yang lebih penting yaitu bisa jalan-jalan sekalian refreshing sejenak dari rutinitas kantor.
Begitu kota tujuan riset diinformasikan, data-data pendukung untuk riset konsumen dipersiapkan, baru kemudian itinerary dan wisata kuliner di kota yang dituju langsung dibuat.  Untuk hotel biasanya dibantu oleh rekan dari cabang setempat yang akan didatangi jadi saya tidak ribet masalah booking hotel.  Namanya juga cariin dan dibayarin, saya nggak bisa memilih hotel sesuka hati namun selalu saya terima dengan senang hati.  Syukur banget kalau ternyata letaknya strategis dekat dengan pusat keramaian.  Segala sesuatu jika disyukuri pasti terasa nyaman.  
Tahun 2002 kala itu saya mendapat tugas ‘road show’ selama 12 hari ke Kalimantan.  Kota yang dituju adalah Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, dan terakhir Balikpapan.   Karena saya penyuka pengalaman baru maka ada kesempatan pergi ke Pulau Kalimantan kali pertama pasti sungguh menyenangkan.  Berangkat dari Jakarta berdua dengan teman dari bagian Marketing.  Teman saya itu usianya 20 tahun di atas saya namun tetap asyik untuk diajak jalan bareng.  Karena sering pergi berdua dengannnya, maka tidak ada bayangan mati gaya selama 12 hari menikmati rimba Kalimantan. 
Kota pertama yang dituju adalah Banjarmasin.  Mendarat di bandara Syamsudin Noor kami dijemput oleh tim dari kantor cabang Banjarmasin dan langsung menuju ke hotel. Karena baru pertama kali menginjak bumi Kalimantan, mata saya tidak lepas memandang jalanan sepanjang dari bandara sampai ke hotel.  Setelah beberapa lama menyusuri jalanan, ada yang menarik perhatian saya, di sudut-sudut kota terpampang baliho atau spanduk tentang grup band PADI yang akan manggung di kota itu 2 hari lagi.  Mereka sepertinya sedang promo album baru mereka waktu itu yaitu Sesuatu yang Tertunda.  Lagu di album tersebut memang semua menarik.  Meski saya ngefans mereka tapi belum pernah sekalipun saya bertemu bahkan menonton aksi panggungnya. Pikiran saya langsung melayang seandainya bisa menonton show mereka, ehm..pasti seru, kalau dibuat cerita judulnya “Senang Bukan Main bertemu PADI di Banjarmasin”.  Lamunan langsung buyar karena mobil tiba-tiba sudah masuk ke halaman hotel tempat menginap.  Suasana di parkiran sungguh ramai dengan mobil dan orang lalu lalang.    Spanduk PADI pun tumpah ruah di hotel tersebut.  Hati kecil langsung berbisik jangan-jangan mereka tinggal di hotel yang sama dengan saya, ngarep!  Sewaktu check-in saya menyempatkan bertanya pada petugas hotel dan jawabanya, tara…..PADI benar menginap di hotel tersebut dan kabarnya mereka akan datang besok!  Seumur-umur baru kali ini bisa sehotel dengan artis.  Pantesan panitia dengan kaos bertulisankan PADI di punggung sliwar-sliwer keluar masuk hotel.  Tidak banyak yang bisa dilakukan malam itu, saya memilih tidur di kasur empuk untuk menjaga stamina selama tugas di Kalimantan.  Padahal ritual saya kalau menginap di hotel adalah saat malam pasti berkeliling seputaran hotel untuk mencari kolam renang.  Pantulan lampu di air yang tenang sungguh mendamaikan hati.  
Keesokan harinya setelah menikmati sarapan di hotel, kami dijemput untuk berangkat ke tempat riset.  Riset dimulai dari jam 8 pagi  dan selesai jam 5 sore.  Tidak ada rencana yang akan kami lakukan setelah itu, maka kami segera diantar kembali ke hotel.  Wajah Fadly, Piyu dan Yoyo kembali terbayang, akankah saya bisa bertemu salah satu dari mereka.  Sesampainya di hotel, busyet banyak banget fans yang sudah menunggu di luar hotel namun mereka tidak diperbolehkan masuk ke lobi.  Bukannya sombong tapi saya lebih unggul dari para fans PADI tersebut karena saya bisa lenggak-lenggok masuk hotel tanpa disemprit pak satpam (yaeyalah…orang nginep di situ).  Hari masih sore saya ajak teman saya menikmati fasilitas kolam renang.  Hanya kami berdua yang mengisi kolam renang tersebut, bener-bener seperti kolam renang pribadi.  Teman saya pamit mau ke kamar duluan, nggak lama kemudian saya menyusulnya.  Setelah berganti baju, lagi-lagi saya masih penasaran banget bisa bertemu dengan mereka.  Saya ijin ke teman saya mau keluar sebentar, padahal sebenarnya mau melakukan misi ngider di seputaran hotel untuk sekedar melihat hidung Piyu, hehe.  Mengorek informasi dari salah satu petugas hotel para personil PADI menginap di lantai 6, sedangkan kamar saya ada di lantai 4.  Entah informasi tersebut benar atau salah, saya segera  mengendap-endap ke lantai 6, sepi…semut.pun males keluar sepertinya.  Saya naik turun lift dari lantai 4 ke lantai 6 bolak-balik sampai bego.  Kayaknya kalau ketahuan pak satpam langsung ditangkap dikira orang gila (padahal emang gila beneran, mikirin nggak bisa bertemu PADI).  Putus sudah harapan, balik ke kamar 1 jam kemudian dengan langkah gontai.  Untung teman saya nggak curiga, seandainya dia tahu apa yang saya lakukan 1 jam terakhir pasti langsung pingsan!
Pagi harinya saya bersiap untuk beranjak dari Banjarmasin untuk bertolak ke Palangkaraya.  Setelah sarapan, kami berdua diajak untuk menikmati masakan khas Banjarmasin yaitu Ayam Masak Habang dan membeli beberapa makanan untuk bekal perjalanan ke Palangkaraya.  Setelah selesai, kami kembali ke hotel lagi untuk check out.  Saya nggak berharap lagi untuk bisa bertemu PADI karena ‘hidup’ saya di hotel itu tinggal hitungan menit, cuma tinggal ambil koper, check out dan bye.  Tapi tetep, hati kecil saya nggak bisa berbohong pengen banget foto bareng Piyu. Kami langsung menuju lift untuk naik ambil koper.  Lamunan saya terhenyak saat pintu lift lobi terbuka tepat di hadapan saya.....’Piyuuuuuu…!!! Oh My God..tangan saya sontak gemetar, plastik berisi apel langsung saya letakkan di lantai tangan saya sibuk mencari kamera di tas.  Yuupp kamera ketemu, langsung minta bantuan teman saya untuk motret saya bareng sang idola.  Nggak sampai sepuluh detik Piyu langsung dikerubuti fans yang entah tadi pada ngerong sembunyi di mana.  Teman saya tangannya memegang kamera sambil gemetar karena kaget melihat saya hilang di antara kerumunan.  Sampai bertanya “Mau foto sama yang mana, Piyu yang mana?” Saking bingungnya, olala teman saya ternyata nggak tahu yang mana Piyu hahaha.  Duh, nyengir kuda langsung difoto tak masalah bahkan sempat minta tanda tangan segala.  Puas, ternyata usaha keras saya berbuah manis kemudian syukur PadaNya terucap telah mengabulkan doa saya yang dengan sabar menunggu datangnya kesempatan tuk bertemu Piyu.  Tugas 10 hari tersisa langsung terasa ringan hehe..hajar bleh!!
Masih dalam rangka menjalankan tugas, kisah saya selanjutnya adalah ketika ditugaskan ke ibukota Jawa Tengah yaitu Semarang.  Pada kesempatan tersebut saya bertugas bertiga dengan rekan satu bagian yaitu Rina dan Olive, asyik karena kami seumuran terbayang kegilaan yang akan kami lakukan di sana.  Acara inti dijadwalkan hari Senin pagi jam 8, jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket untuk pergi hari Minggu siang dari Jakarta.  Sore hari kami tiba di bandara Achmad Yani dari situ kami naik taksi langsung menuju hotel.  Seperti biasanya kami sudah dibantu booking hotel oleh rekan dari kantor cabang Semarang jadi kita tinggal check-in di resepsionis hotel yang ada di wilayah Simpang Lima, Semarang.  Barang-barang segera kami masukkan ke kamar, dikarenakan kami bertiga, maka saya memesan extra bed.  Hari masih sore, kami bertiga sepakat menghabiskan malam di Semarang.  Kegiatan diisi dengan keliling kota Semarang.  Tujuan pertama kami adalah Vihara Buddhagaya Watugong, lalu dilanjutkan ke Klenteng Sam Po Kong dan Gereja Blenduk.  Setelah makan malam, kami masih ingin menikmati temaram kota Semarang meski gerimis pada saat itu.  Tercetus ide untuk menguji nyali ke Lawang  Sewu. Beruntunglah kami, karena ternyata hari Jumat-Minggu Lawang Sewu buka hingga jam 12 malam.  Kami sampai di sana sekitar jam 9 malam.  Menyusuri lorong Lawang Sewu, malam, gelap, gerimis...sungguh sempurna!  Dengan ditemani seorang pemandu, kami diajak berkeliling lorong-lorong Lawang Sewu sambil ‘didongengi’ kisah sejarah Lawang Sewu pada jaman dulu.  Meski gelap mendera, seperti biasa kami tetap cekikak-cekikik sambil foto sana-sini.  Namun kekonyolan kami tidak berlangsung lama, saat itu Olive sedang ngobrol dengan pemandu, saya minta bantuan Rina untuk potret saya dengan background bangunan gelap menyeramkan.  Pose dibuat semanis mungkin, Rina hitung “satu..dua..tiga..klik..!! Lalu katanya “Mbak, kok nggak ada gambarnya!” Glek..sempat menelan ludah sebelum melihat hasil fotonya.  Seketika saya langsung masukkan kamera ke saku karena selintas terlihat yang ‘terfoto’ bukan wajah manis saya melainkan justru bangunan hitam gelap di belakang saya.  Merinding…!!
Kami tetap melanjutkan berkeliling sampai mampus.  Setelah puas 1 jam mengitari Lawang Sewu akhirnya kami pulang ke hotel karena malam sudah larut dan kami ingat besok tugas hari perdana menanti.  
Tiba di hotel kami langsung menuju lift untuk naik ke kamar.  Di dalam lift kami kembali bercerita tentang kejadian menyeramkan tadi, saya langsung merasa ada yang mencekik saya, segera saya tepis perasaan tersebut.   Kamar yang kami tinggali tidak terlalu besar, apalagi ditambah extra bed di tengah, kamar jadi makin terasa sempit.  Tak apalah karena malah terasa guyub rukun.  Saat itu Rina yang sepakat pertama mandi, saya menulis kejadian hari itu di notes kecil sampai Olive mandi……dan…kehebohan pertama terjadi…!
Olive teriak “Apa ini.. ?” Saat melihat kaca kamar mandi …sekujur badan saya merinding…kaca segede bagong di kamar mandi penuh dengan tulisan dan gambar menyeramkan!!!  Gambar perempuan seram berambut keriting dengan kata-kata makian tertulis di sana.  Saya mencoba hapus namun tidak bisa, kami segera menepis rasa takut dengan beranggapan gambar tersebut muncul akibat uap air panas karena ternyata Rina sebelumnya mandi menggunakan air dingin sehingga gambar menyeramkan tersebut tidak muncul.     Saya langsung ke sofa lagi namun hati masih merasa tidak enak, Olive lanjutkan mandinya namun kembali menjerit kenapa ada notes di lantai kamar mandi.  Kehebohan kedua terjadi ..saya pun seketika kaget siapa yang memindahkan notes saya ke kamar mandi.  Saya langsung tersadar mungkin tadi sewaktu menganga kaget melihat tulisan aneh, tidak terasa notes yang saya pegang jatuh.  Ketegangan belum berakhir, kehebohan ketiga terjadi saat saya berdiri di dekat meja televisi, tiba-tiba lampu kamar mati.  Alamak kegilaan apalagi nih pikir saya.  Saya kira Rina yang matiin lampu demikian juga yang ada di pikiraannya saya yang matiin lampu.  Duh…bulu kuduk kembali meremang, setelah menenangkan hati dan diusut, lampu mati sendiri karena sakelar di meja kecil yang ada di antara dua tempat tidur utama tergencet extra bed yang ada di tengah.  Woahahahaha….konyol sungguh konyol malam itu.  Tiba giliran saya mandi, jika melihat hasil karya entah siapa di kaca tersebut memang terlihat ngeri bikin jantung mau copot.  Kami menutup malam di hotel tersebut dengan berlomba siapa yang tidur paling cepat karena males kalau harus merinding lagi hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar