Senin, 10 Maret 2014

Ketauan Orang Indonesia

Di suatu sore ketika sedang iseng membaca koran, tak sengaja saya melihat sekotak kecil informasi yang berisi Kontes Menulis tentang Indonesia yang diadakan oleh salah satu maskapai penerbangan.  Kita diminta menceritakan salah satu kota di Indonesia dengan pilihan Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Surabaya, Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Bali, Makassar, dan Banjarmasin.  Apa yang wajib dikunjungi di kota tersebut, makanan yang harus dicoba, cinderamata khas, dan harus disertai dengan foto asli jepretan kita.  Sontak otak saya langsung merespon tantangan tersebut.  Seluruh memori saya tentang kota-kota yang pernah saya kunjungi mulai bersliweran.  Kontes ditutup hanya seminggu setelah tantangan tersebut dilayangkan.  Kota pertama yang saya tulis adalah Jogja.  Seperti tidak rela hanya menuliskan 1 kota, mumpung ide sedang mengalir, saya mencoba juga menulis 3 kota lainnya yaitu Surabaya, Pekanbaru, dan Bali sekaligus.  
Sehari sebelum deadline, saya mengirim hasil karya beserta foto-fotonya.  Dari lubuk hati terdengar bisik lirih yang rasanya hadir di setiap insan yang mengikuti kontes apapun.  Harapan tuk menang…..
Sepanjang hari di tanggal yang telah dijanjikan untuk pengumuman pemenang, saya cek surel tiap jam.  Hingga siang kabar tersebut belum ada,  sore hari di saat kerjaan menumpuk saya sampai melewatkan cek surel.  Sampai ada teman saya mengirimkan sms ucapan selamat kalau saya merupakan salah satu pemenang kontes tersebut.  Woaa…hadiah tiket pp gratis ke Malaysia ada di depan mata.  Namun seperti yang dijanjikan oleh penyelenggara kontes, dari ke-13 pemenang tersebut akan dipilih lagi 3 pemenang yang akan mendapatkan grandprize tiket pesawat pp ke wilayah Asia.  Boleh dong bermimpi, siapa yang nggak pengen dapat grandprize.  Saat yang dinanti tiba, sewaktu saya cek surel, syukur padaNya terucap, nama saya ada di urutan pertama yang menerima rejeki tersebut.  Negara tujuan yang saya pilih adalah Hong Kong, saya rencanakan juga untuk menyeberang ke Macau.
Pertengahan Desember tahun 2010, saya berangkat sendiri dari Jakarta menuju Hong Kong.  Karena sendirian, maka saya buat secara rinci itinerary selama di sana.  Sekitar jam 17:30 saya sampai di HKIA (Hong Kong International Airport).  Saya bermaksud menunda dulu menyapa Hong Kong karena malam itu saya akan langsung bertolak ke Macau menggunakan bis.  Tak sampai 25 menit, bis yang akan membawa ke Connaught Road, halte terdekat dengan China Ferry Terminal, datang.  Saya memilih duduk di bagian atas supaya dapat leluasa memandang Hong Kong di waktu malam. Tak lama kemudian bis sampai ke tempat tujuan.  Tidak susah menemukan loket yang menjual tiket Turbojet ke Macau.  Menikmati perjalanan selama 1 jam akhirnya saya tiba di Macau.  Di depan terminal terdapat banyak sekali bis gratis bermacam warna yang akan membawa kita ke hotel-hotel mewah di Macau.  Saya pun segera naik bis hijau yang akan membawa ke Hotel Lisboa.  Tentu saja saya tidak menginap di hotel tersebut hehe..Lokasi hostel saya ada di belakang hotel tersebut.  Sungguh gemerlap Macau di waktu malam, Ketika turun dari bis, mati mampus di mana letak hostel saya di tengah gemerlap lampu warna-warni hotel plus kasino Macau.  Iseng bertanya pada bapak-bapak yang sedang menyapu jalanan beliau tidak mengerti bahasa inggris.  Ya sudah cari sendiri saja, tepat di belakang hotel Lisboa, ada bangunan kuno dengan lorong super gelap.  Dan benar saja, ternyata lokasi hostel saya ada di lantai 3 bangunan tersebut.  Alamak, ini gudang atau tempat penyekapan sih, gelap penuh debu dan usang.  Saya ketuk pintu ruangan dan saya dipersilakan masuk oleh pemilik hostel.  Hostel tersebut ada 3 kamar yang masing-masing terdiri dari 3 tempat tidur tingkat.  Saya dapat tempat di bagian atas.  Setelah proses check-in selesai, saya segera keluar untuk sejenak menikmati ‘sapaan’ Macau yg sungguh memukau.  Saya menyeberang lewat underpass ke hotel Wynn.  Sebelum berangkat, googling dulu atraksi-atraksi malam di Macau yang banyak adalah di hotel tersebut.  Saya pertama kali sok pede masuk ke kasino, segala macam permainan ada di sana, di saat yang lain pada main, saya malah minum bergelas-gelas Rosemary Tea yang ditawarkan sama mbak-mbak yang jaga.  Sambil sesekali celingukan melihat permainan yang sedang berlangsung.  Setelah puas menonton, saya menuju lobi, di sana ada pertunjukan  menarik yaitu Dragon of Fortune, dan Prosperity Tree Show.  Dari basement muncul naga emas saat Dragon of Fortune dan pohon emas saat Prosperity Tree Show.  Menarik sekali pertujukan gratis tersebut.  
Saatnya kembali ke hostel, setiba di sana saya langsung disapa oleh teman sekamar, kami ngobrol sebentar, ternyata dia berdua dengan temannya adalah orang Portugal.  Tempat tidur yang satunya diisi oleh cewek Australia, kami sempat mengobrol sebentar.  Saya yang baru pertama kali menginap di hostel, sendirian pula, merasa terkesan karena bertemu dengan teman sekamar yang ramah, sehingga meski sendiri jauh dari keluarga tidak merasa kesepian.
Bangun pagi-pagi masih sepi, saya sampai jalan dengan berjingkat takut penghuni lainnya pada bangun.  Ada dapur kecil di hostel tersebut untuk sekedar membuat sarapan atau minuman.  Sewaktu di dapur akan membuat minuman, kaget bukan main karena tiba-tiba ada yang ajak saya omong bahasa Tagalok ternyata ada yang mengira saya orang Filipina.  Bukan sekali itu saja namun oleh 3 tamu hostel yg berbeda menanyakan apakah saya dari Filipina.  Hehe lucunya di Jakarta saya selalu ditebak orang Jawa padahal baru ngomong 1 kata, lha ini di negara lain malah saya naik kelas dikira orang Filipina.  Karena kamar mandinya sharing dan hanya ada 2 untuk total 3 kamar, maka saya mandi pagi sekali di saat yang lain masih terlelap.
Hari tersebut rencana saya isi dengan berkeliling Macau.  Salah satu yang masuk dalam itinerary saya selama di Macau adalah mengunjungi galeri Michael Jackson (MJ) yang ada di Hotel Sofitel.  Saya berdecak kagum saat memasuki hotel tersebut, segala hiasan natal (saat itu memang 2 minggu menjelang hari natal) nan gemerlap ada di seputaran lobi.  Dikarenakan jam buka galeri tersebut masih 2 jam lagi, maka daripada mati gaya mendingan saya keliling hotel karena memang hobi saya saat berada di sebuah hotel adalah mengitarinya demi menemukan kolam renang.  Memang terkesan aneh kebiasaan saya tersebut, cuma sekedar melongok ke kolam renang dan foto-foto sudah senang saya dibuatnya.  Kala itu saya sudah menemukannya namun ketika minta ijin mau masuk oleh penjaganya langsung dilarang, sedihnya saya, padahal sudah mengutarakan alasan hanya mau foto kolam renangnya, tetep nggak boleh.  Saya masih belum menyerah saya melihat akses masuk ke kolam renang harus melewati restoran hotel tersebut.  Saat celingukan, ada yang menyapa saya dalam bahasa Indonesia, “Mau kemana mbak?” Ups..pikir saya, ada saudara yang mengenali saya orang Indonesia nih, seneng rasanya bisa bertemu saudara di negeri orang.  Orang tersebut ternyata dari Jakarta dan sudah bekerja 5 tahun di hotel tersebut.  Dia bertanya apakah saya menginap di hotel tersebut, oho..tentu saja tidak, saya bilang hanya pengen foto kolam renang sembari menunggu galeri MJ buka.  Lewat pertolongannya saya berhasil masuk ke kolam renang dengan diiringi tatapan sinis penjaga sport club tersebut.  Maaf ya..beruntungnya saya.
Setelah melihat galeri MJ, saya lanjutkan berkeliling kota Macau sampai menjelang senja.
Malam itu saya seperti enggan sampai larut, jadi jam 8 malam saya sudah  sampai di hostel lagi.  Suasana sepi sekali, daripada di kamar sendirian saya malah mengobrol dengan si empunya hostel yang ternyata asalnya dari Bangladesh.  Senang rasanya bisa bertukar cerita di negeri orang apalagi di saat kita sendirian.  Sengaja tidak mau sampai larut malam, karena keesokan paginya saya akan berangat ke Hong Kong dengan naik First Ferry pukul 6 pagi.
Tepat pukul 7 pagi saya menginjakkan kaki kembali di Hong Kong.   Untuk menuju ke penginapan saya di dekat MTR Jordan, maka saya naik MTR dari stasiun yang terdekat dari dermaga yaitu  Tsim Sha Tsui.  Setibanya di stasiun Jordan saya segera menuju ke Nathan Road tempat penginapan saya tersebut.  Kebingungan terjadi karena saya tidak berhasil menemukannya.  Bertanyalah saya pada pelajar yang ada di pinggir jalan, mereka malah melengos duh sedihnya.  Tak lama kemudian dari belakang muncul perempuan keren dan langsung sok akrab dengan saya, kenapa sok akrab, karena mbak itu langsung ajak saya omong bahasa Jawa, bersorak…saya menemukan saudara di belahan bumi HongKong.
M : “Arep ningdi?” (Mau kemana)
S : “Golek hotel.e iki lho mbak” (Cari hotelnya ini lho mbak)
M : “Karo majikan.e ora diandani po? (Sama majikannya gak dikasih tau apa?)
S : Keringat nongol di kening sambil menelan ludah. “Nggak mbak”
M : “Telepon wae” (Telepon aja)
S : “Ya mbak”
M : “Ati-ati yo!” (Hati-hati ya!)
S : “Maturnuwun ya mbak” (Terimakasih ya mbak)
Hihihihi…geli sendiri saya dikira TKW, biarkanlah wajah saya memang ndeso ditambah dengan tentengan saya tas bermotif batik, kalau ngomong medok pas banget dah.
Jalan berputar-putar akhirnya saya menyerah dan mengikuti saran mbak tadi untuk menelepon Hakkas Guesthouse tempat saya menginap. Olala dari stasiun Jordan tadi seharusnya saya belok kiri sedikit langsung sampai, saya malah ke kanan dan ternyata malah makin menjauh.  Syukurlah sudah sampai ke tempat yang dituju.  Kali ini saya di kamar sendirian bukan model dorm seperti sewaktu saya menginap di Macau.  Hari pertama di  Hong Kong saya habiskan sampai larut malam.  Sampai di hotel terasa sunyi.  Di sini saya bisa merasakan perbedaannya, sewaktu kemarin di Macau privacy terbatas karena harus berbagi kamar dengan orang lain meskipun tidak kenal tapi serasa ada teman, tidak sendirian.  Sekarang rasanya sunyi sendiri tanpa teman meskipun saya bebas membuka semua isi tas saya dan membuat kamar berantakan.
Dua malam menginap  di hotel tersebut rasanya susah sekali mejamkan mata, padahal sewaktu di Macau rasanya baru rebahan langsung bablas.  Entah karena memang balutan hawa dingin bulan Desember, atau karena sunyi sendiri, atau karena di bawah sana di jalanan masih ramai lalu lalang kendaraan.  Duuhh..ingin sekali rasanya pagi cepat menyapa.   
Minggu pagi saya berniat ke daerah Victoria Park untuk bisa bertemu dengan saudara-saudara dari Indonesia yang bekerja di Hong Kong.  Banyak sekali komunitas perkumpulan di sana, ada yang hanya sekedar cerita, makan-makan, dan bahkan banyak juga yang jualan  berbagai makanan khas Indonesia, ada bumbu pecel, peyek, sambel terasi, kering tempe, kering kentang, dan masih banyak lagi.  Saya sempat mengobrol dengan salah satu dari mereka, pakai bahasa Jawa lagi hehe..serasa di rumah sendiri.  
Saya nikmati malam terakhir di Hong Kong.  Show segera berakhir, saatnya berkemas dan bersiap utuk kembali ke tanah air keesokan harinya.  Pengalaman yang sunguh indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar