Minggu, 30 September 2012
The Journey was begin
Hari Minggu dini hari di saat semua orang masih terlelap berangkatlah saya ke bandara Soekarno Hatta untuk mengawali perjalanan ke Jepang Negeri Sakura.
Perjalanan diawali dengan penerbangan selama 1.5 jam ke Singapura transit selama 1 jam kemudian dilanjutkan 7jam mengudara menuju ke Jepang.
Hantaran minum bertubi-tubi datang menghampiri kemudian tiba saatnya makan siang seluruh bagian meja di depan kursi penuh terisi makanan. Dari salad buah dan ayam dengan dressing khas Jepang ada rasa kacang, nasi, ikan salmon, soba dengan soba sauce tak ketinggalan wasabi dan nori flake, roti plus butter, crackers. Saat ditanya minum saya nekat mau mencoba white wine oalah Ponk wong ndeso ojo neko-neko..
Tegukan pertama langsung menimbulkan sensasi semlenget di hidubg, kepala pening, kening cenut-cenut busyet cepet banget efeknya menjalar..makan terus dilanjutkan ketika menegak white wine yang kedua efek masih sama lalu saya encerkan ditambah air putih diseruput keadaan tak berubah malah tambah parah dalam hati 'Ponk perjalanan baru mau mulai gimana kalau belum-belum sudah mabok! Ya sudah saya putuskan segelas white wine yang masih penuh (karena ditambah air putih) dikembalikan ke pramugara agak heran raut wajahnya pasti dia pikir ini orang mabok apa ya? Hidangan ditutup dengan es krim vanila berbalut coklat.
Perjalanan diisi dengan menikmati sajian entertainment film/lagu dari layar di depan kursi beserta headphonenya.
Tepat pukul 17.30 waktu Jepang (GMT + 9) saya mendarat di bandara Narita Tokyo. Di saat mengantri di imigrasi kami disambut oleh gempa bumi yang sepetinya sudah tak asing untuk warga Jepang, sementara kami kaget dengan adanya gempa bumi, warga Jepang tak ada yang bergeming.
Belum hilang kekagetan kami, munculah kabar bahwa di luar sedang ada taifun yang ternyata sehari sebelumnya menhantam wilayah Nagoya saat itu Tokyo sedang mendapat 'belaian' sang taifun. Semua penerbangan dari dan ke Tokyo sesaat dibatalkan/ditunda. Bersyukurlah kami namun tetap berharap semoga semua segera berangsur membaik.
Kabar menyebutkan moda transportasi yang bisa beroperasi adalah bus, jadilah kita menunggu bus Airport Limousine di halte nomer 13 dengan tujuan Shinagawa sesuai dengan lokasi hotel Takanawa. Beruntung ada Rick dari Takasago Singapore yang sudah menunggu kami. Tiket bus dengan perjalanan selama 75 menit tersebut dibandrol dengan harga ¥ 3000.
Sesampainya di hotel kami disambut oleh paket hujan plus angin kencang.
Dengan kondisi perut kosong setelah check in dan memasukkan segala tas ke kamar kami turun lagi bersiap untuk makan malam. Dikenalkanlah kami dengan Kazuya Nakajima orang Jepang namun di Takasago Singapore. He is so cute!!!
Diajaklah kami makan di restoran Jepang di area hotel. Menu yang dipilih Tempura ada sup Miso dan Sashimi, dan yang tak pernah terlewat untuk menemani makan selama di Jepang adalah green tea. Porsi makan di Jepang jumbo dan banyak rupa.
Menikmati makan malam sembari cerita-cerita sementara hujan dan angin di luar tiada henti terlihat dari balik kaca. Tepat pukul 10 kami hendak kembali ke kamar hujan agak mereda buru-buru kami melintasi taman menggunakan payung namun sungguh mencengangkan saat tepat di tengah taman angin kencang 'memelintir' di atas kita. Langkah kaki menuju pintu hotel sungguh terasa berat dan payung transparan hotel yang lucu seketika rusak remuk redam. Sungguh lega akhirnya kami bisa masuk ke dalam hotel.
Tak lama kemudian ada staf hotel yang pasang wifi di kamar entah grogi atau mikirin badai di luar cowok Jepang itu masang wifi sambil berkeringat sampai tetes-tetes di meja oh no...!
Makasih ya mas jadi bisa whatsapp.an ke semua.
Dari lantai 6 saya melihat suasana di taman sungguh ngeri angin sangat kencang menerpa pepohonan dengan suara menderu sampai kaca hotel tersentak. Kabar yang diterima angin topan tersebut mampir di Tokyo mencapai puncaknya pada tengah malam. Maksud hati ingin melihat topan menerjang namun apa daya mata pengen segera memejam.
Senin, 1 Okt 2012
Saatnya menghirup udara pagi di Tokyo.
Sarapan sambil menikmati suasana pagi yang seakan tidak ada tragedi angin topan malam harinya. Tidak ada bekas sama sekali huru-hara semalam bahkan dedaunan nampak tenang dengan sedikit tersibak angin. Kemana gerangan perginya angin...
Seusai sarapan rekan-rekan dari Takasago berkumpul ada Rick dan Nakajima dari Singapore, Oiko dan si lembut Bird dari Jepang. Juga ada costumer dari Philipine dan Thailand.
Kami saling berkenalan dan tukar kartu nama. Sejurus kemudian kami sudah bergerak menuju stasiun Shinagawa. Sesuai rencana kami akan naik kereta super cepat Shinkansen menuju Yokohama. Jadwal kereta pukul 9.40 pas. Sembari menunggu datangnya kereta seperti biasa saya mulai foto2 dengan latar belakang 'moncong' Shinkansen. Saatnya masuk ke dalam kereta berkecepatan 300km/jam tersebut. Interior laksana kabin pesawat. Perjalanan ke Yokohama yang seumpama ditempuh mebggunakan kereta biasa 2jam dengan Shinkansen hanya perlu waktu 11 menit. Memandang keluar seperti slide foto yang sedang tampil dipercepat.
Baru sekejap menikmati slide foto alami kami pun tiba di stasiun Shin Yokohama tepat di depan pintu kereta kami ada bangunan yang membuat semua tertawa karena bangunan tersebut bertuliskan Givaudan yang merupakan salah satu kompetitor terbesar Takasago.
Kami berjalan menyusuri stasiun menuju museum ramen yang bernama Shinyokohama Raumen Museum. Antrian dipenuhi oleh rombongan anak sekolah.
Tiket masuk seharga ¥ 250. Begitu masuk langsung terlihat shop yang menjual mi dan souvenir.
Turun tangga menuju lorong- lorong berlatar Tokyo tahun 1958, tahun tersebut merupakan tonggak awal hadirnya ramen di Jepang.
Ada telepon umum, model rumah lengkap dengan jemuran di balkon lt 2 rumah tersebut, sekolah, beauty salon dan masih banyak lagi.
Saatnya mencoba salah satu restoran Sumire berbasis dari Tokyo, ramen yang disediakan kuah dengan rasa shoyu, miso, dan shio (salt). Harga 1 mangkok ¥ 550. Ugh..porsi segede gaban tak kuasa tuk menghabiskan. Mau diseruput dihabiskan kuahnya saja namun terlalu asin.
Turun lagi di lantai bawah serupa dengan alun-alun karena di sekelilingnya dipenuhi orang jualan ada es krim, kue, minuman dan tentu saja warung ramen yang jumlah total di dalam museum tersebut ada 9 buah.
Kami mencoba salah satu warung ramen yang ketika dirasa dominan fried garlic dan fried onion. Kuah salah satunya berwarna hitam. Warung yang satu ini kuahnya tidak seasin ramen dari warung sebelumnya. Cenderung manis semanis mas yang jual dan saya sampai diam-diam memotret wajah manisnya hehe..
Selepas itu kami melanjutkan perjalanan survei produk makanan di supermarket. Tujuan pertama ke 7eleven holdings. Begitu banyak produk makanan yang sumpah semua seperti melambai minta dibeli!
Jepang jagonya bikin makanan lucu dan menarik.
Dari mi, biskuit, minuman, snack, instant food, dan convenience product yang variatif tinggal panasin di microwave siap santap.
Saking luasnya kami sampai tidak mengintari semua lorong.
Masih kuat jalan kami naik kereta melewati 2 stasiun dan sampailah ke Diver City Mall. Tujuan utama market survey snack dan candy super lucu.
Namun ketika dikasih info kalau di dalam juga ada Uniqlo dan Daiso wah tambah semangat karena keduanya termasuk dalam daftar toko yang mau dikunjungi selama di Tokyo.
Melihat candy bersama antek-anteknya gak ada yang dibeli karena muahal rek!!
Kita menuju food court di lantai 2 mencoba makanan Jepang ramen, udon, okonomiyaki.
Sambil minum glico coffee banana dengan jeli.nya syeger..asli enak banget!
Setelah kenyang kami langsung cabut ke Daiso di lt 6, semua serba ¥105.
Sesuai jadwal kami harus ke hotel dulu dengan kereta sebelum dinner namun karena masih pengen ke Uniqlo akhirnya diputuskan kembali ke Shinagawa naik taxi. Di Uniqlo saya dapat jaket buat Sita tapi sayang banget ternyata kegedean, maaf ya Sita..
Setelah selesai langsung cabut ke Shinagawa dengan 2 taxi saya, Grace, dan Rick senentara taxi lainnya Bu Nira, Pak Preddy, dan Oiko. Sekali masuk argo langsung menunjukkan anfka ¥710, astaga...!!
Kami turun di belakang stasiun Shinagawa Rick sibuk menelepon Oiko kami malah tega di belakangnya saling foto2 karena sekelilingnya bangunan dengan lampu gemerlap. Ada cewek cantik menghampiri menawarkan untuk memotret waow baik hati sekali. Lalu kami langsung pasang gaya tangan ke atas membuat 'love' Korean Style, sementara Rick masih sibuk menelepon mencari rombongan lainnya. Alamak teganya kita! Lalu maksud hati mau bilang ke cewek yang motret kita arigato gozaimasu yang meluncur dari mulut ohayo gozaimasu langsung aja cewek tersebut senyum maklum lha wong malam hari kok mengucapkan selamat pagi hehe...
Akhirnya Oiko datang menjemput kita dan langsung menuju ke Sushi Restoran.
Barang seabrek hasil belanja di supermarket langsung dimasukkan ke peti dibawah tempat duduk. Pesan dikabulkan yaitu sweet sake, bir, dan cocktail. Nekat karena masih terbayang-bayang mabok white wine di pesawat. Ibu maapin anak ibu malah mabok-mabokan di Jepang padahal seumur-umur belum pernah minum minuman beralkohol.
Makanan Jepang datang silih berganti Sashimi yang meleleh di mulut, Tempura crunchy, Cawan Mushi, Tofu, dan kami melihat pembuatan chef restoran saat membuat Sushi. Sushi yang dibuat langsung kandas kita santap. Usai dinner kami kembali ke hotel jalan kaki menyusuri stasiun Shinagawa.
Sampai di hotel saya dan Grace masih lanjut keluar lagi. Maksud hati mau mencari minuman kopi Glico yang super enak sudah menyusuri seputaran stasiun dan di sekitar hotel tapi nihil ya sudah lanjut foto-foto di dekat tulisan hotel Takanawa Tokyo.
Malam ditutup manis tanpa kehadiran angin sama sekali seperti malam sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar